DEKAN FKIP BERHARAP MAHASISWA FKIP IKUT BERPARTISIPASI DALAM ACARA DIES NATALIS KE-36

oleh -198 views

Muaro Jambi, Oerban.com – Pada Minggu (11/11/18) BEM FKIP Unja menggelar seminar kependidikan dengan tema “Kreativitas Generasi Muda dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” di Balairung Universitas Jambi. Acara dimulai pukul 08.30 WIB. Dihadiri langsung oleh Dekan FKIP, Wakil Dekan II, Wakil Dekan III, Presiden Mahasiswa UNJA, Ketua MAM FKIP, serta Gubernur FKIP. Acara tersebut bersamaan dengan dibukanya Dies Natalis FKIP tahun ini.

Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan masing – masing Hima dan OK di FKIP.

Dekan FKIP, Prof. Dr. rer. nat. Asrial, M.Si mengatakan dalam pidatonya, bahwa jika acara dalam lingkup fakultas, maka Dekan akan hadir, jika acara dalam lingkup jurusan, maka wakil dekan yang akan hadir, tapi hari ini Dekan hadir karena acara Fakultas. Ia menambahkan bahwa Ia merasa agak kecewa karena yang datang pada hari ini sedikit, “Saya agak kecewa kenapa jumlah yang hadir sedikit lalu kursi yang didepan banyak yang kosong. Aturannya menjadi pimpinan harus bertanggung jawab terhadap tugasnya.
Ketidakmunculannya itu mungkin ada kaitannya dengan kegiatan kita. Dosen juga tidak hadir, diundang atau tidak saya tidak tahu. Mudah-mudahan diundang, tapi tidak ada kabar.”

Dekan berharap, budaya melayu ini bisa dilembagakan setiap tahun, “Saya berharap, budaya melayu ini, kita cari nama yang bagus, kita lembagakan setiap tahun harus ada. dan dipadukan dengan kegiatan Dies Natalis FKIP tiap tahunnya. Tahun ini kita sudah susun anggaran sedemikian rupa sehingga tahun depan kita anggarkan sebaik mungkin(untuk kegiatan ini).”

Ia juga berharap, mahasiswa FKIP harus kreatif, jujur, dan terampil. Seperti membuat batik Jambi versi terbaru. “Saya berharap ada kolaborasi antara anak Biologi dengan Fisika, Kimia, Sejarah, dan Bahasa Indonesia untuk membuat batik jambi. Yang dari kimia mencari formula warna, yang dari Fisika menerjemahkannya dalam bentuk digital, kemudian yang Sejarah, melihat sejarah yang ada di Kota Jambi misalnya, atau sejarah di Bungo, kemudian tidak lepas dari orang Bahasa Indonesia yang berkreasi di hasil akhir desain batik. Saya belum pernah melihat perpaduan hijab antara batik jambi dengan kain polos. Itu kita desain sendiri.”(RPY)