Oleh: Muhammad Al Hafizh*
Oerban.com — Hari ini, ribuan orang berdesak-desakan di depan Gedung DPR RI. Aksi yang diberi tajuk “Revolusi Rakyat Indonesia” ini menyoroti tuntutan kenaikan tunjangan anggota DPR, di saat ekonomi rakyat justru makin melemah. Isunya panas, lokasinya strategis, dan dampaknya jelas menyentuh hajat hidup orang banyak.
Tapi coba buka linimasa media sosial. Apa yang paling ramai? Bukan demo, bukan pula teriakan massa di Senayan. Justru kabar perceraian Pratama Arhan dan Azizah Salsha yang jadi trending, lengkap dengan analisis netizen seolah-olah mereka konsultan rumah tangga. Ironis, bukan?
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam ilmu komunikasi, ada yang disebut teori Uses and Gratification. Intinya, orang mencari informasi sesuai kebutuhan pribadi.
Anak muda butuh hiburan, identitas, dan bahan obrolan dengan teman sebaya. Maka gosip selebritis lebih mudah dicerna, lebih enak dibicarakan, ketimbang isu demo yang penuh jargon politik.
Masalahnya, jika terus-menerus terbiasa begitu, kita punya generasi yang cerdas membaca gosip, tapi buta soal kebijakan publik.
Ini yang disebut rendahnya literasi media. Anak muda rajin scroll, rajin share, tapi jarang berhenti untuk bertanya: “Apa dampaknya buat hidup saya?”
Media juga ikut andil. Teori agenda setting bilang bahwa isu yang disorot media, itulah yang dianggap penting oleh publik. Kalau headline portal berita lebih sering soal perceraian artis ketimbang isi tuntutan demo, ya jangan heran kalau warganet lebih hafal kisah asmara ketimbang alasan rakyat turun ke jalan.
Pertanyaannya sekarang, mau sampai kapan kita sibuk di level gosip? Demo di depan DPR hari ini menyangkut langsung masa depan kita semua.
Kalau generasi muda memilih tutup mata, mereka sedang menyerahkan masa depan itu begitu saja pada keputusan segelintir elit politik.
Literasi media bukan soal gaya hidup keren, tapi soal bertahan sebagai warga negara yang kritis. Kalau kita tak mulai membiasakan diri membaca isu publik dengan serius, bukan tidak mungkin besok-besok kita akan lebih hafal nama mantan pasangan selebritis ketimbang nama kebijakan yang menentukan harga beras di pasar.
*Penulis merupakan Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

