Oleh: Syamsudin Kadir*
Oerban.com – Roy Suryo cs kini menjadi tersangka kasus dugaan ijazah palsu Joko Widodo. Pro-kontra pun muncul di mana-mana. Mereka yang ribut pro-kontra ijazah palsu sampai mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran bahkan uang tak sedikit.
Bahkan rela saling mencela dan menghina sesama rakyat biasa. Saling mencaci maki di media sosial. Judulnya satu: ijazah Jokowi asli atau palsu. Pada saat yang sama mafia dan koruptor berbagi proyek.
Bahkan pada sisi yang lain, Megawati, SBY dan Jokowi yang pernah menjadi raja Indonesia tetap menjadi raja hingga saat ini. Mereka juga tetap mendapat jatah fasilitas dari negara dan menikmati APBN seumur hidup.
Anak mereka masing-masing seperti Puan, AHY dan Gibran juga tetap menjadi pejabat penting negara dan menikmati APBN. Puan jadi Ketua DPR, AHY jadi Menko, dan Gibran jadi Wakil Presiden.
Bayangkan saja, pada saat mereka yang pro-kontra itu ribut perihal ijazah palsu, bahkan setiap saat saling menerkam tanpa ampun, para raja dan anak-anak para raja itu tetap hidup santai dengan biaya negara yang tak sedikit.
Mereka juga mendapat fasilitas fantastis dan sangat lengkap dari negara. Uang bulanan dan berbagai pelayanan prima tetap mereka peroleh sejak lama hingga saat ini bahkan hingga kelak tak menjabat apa-apa.
Sementara mereka yang pro-kontra perihal ijazah palsu Jokowi tidak menjabat apapun dan tidak mendapat apa-apa dari negara. Bahkan tidak mendapat sumbangan atau jatah apa-apa dari APBN.
Bila mendapat jatah proyek atau anggaran tertentu, itu agak mendingan. Tapi bila tidak menjadi apa-apa dan tidak mendapat apa-apa, betapa tragisnya. Setiap detik waktu berlalu, tenaga dan pikiran terbuang begitu saja. Kapan sadar diri?
Sedikit mengenang yang lalu, pada saat Jokowi menjadi Walikota Solo, SBY menjadi presiden. Saat Jokowi maju dan menang menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta dan presiden dua periode, PDIP yang dipimpin Megawati-lah yang mengusungnya.
Kala itu bonus jabatan sangat banyak. Jadi, bila ada yang menggugat ijazah Jokowi, maka SBY dan Megawati mesti bertanggung jawab, mereka jangan dibiarkan angkat atau cuci tangan!
Kembali ke anak para raja yaitu Puan, AHY dan Gibran. Mereka sama-sama punya peluang untuk maju di Pilpres 2029. Hal ini terlihat dari publikasi lembaga survei dan berita media massa.
Sementara mereka yang membela atau yang antipati pada salah satunya, tetap menjadi rakyat biasa dan tidak mendapat jatah dari APBN. Dari tahun ke tahun hanya menjadi pembawa bendera dan map pujian palsu, bukan menjadi aktor penting yang dihargai.
Bila pun mereka membela salah satu dari para raja dan anak para raja itu, atau mungkin tokoh lain, tetap saja mereka-mereka juga yang menjadi raja. Mereka dan anak-anak mereka. Berputar hanya di situ, hanya di lingkaran keluarga mereka.
Dari raja ke raja, dari raja ke anak raja. Sementara orang di luar lingkaran mereka terjebak ribut antar sesama bahkan saling mencela dan antipati antar sesama. Hancur lebur gegara jadi budak para raja.
Bayangkan saja, hubungan baik dengan para tetangga dan teman kerja bisa rusak hanya gegara dukung mendukung atau pro-kontra perihal kasus ijazah palsu. Konon ada yang mengaku ini peran kepahlawanan, demi bangsa dan negara.
Padahal masyarakat di luar sana yang hidup di negara ini tak peduli dan tak merasa dibela. Karena masyarakat sudah tahu semua ini hanya dagelan para raja dan lingkarannya. Para budak jadi jongos mereka.
Mari kita cek secara jujur dan apa adanya, siapa saja yang saat ini getol dengan isu ijazah palsu. Mereka dulunya adalah orang dekat dan kepercayaan Jokowi. Mereka menjadi juru bicara dan orang lingkaran yang sama.
Bahkan mereka mendapat jabatan tertentu termasuk menjadi komisaris di BUMN. Setelah tidak satu kolam dan tak menjabat, kini mereka ribut dan terlihat cuci tangan serta sok suci. Mereka plin-plan dalam banyak hal.
Kita harus akui bahwa apa yang kita saksikan saat ini hanyalah dagelan di panggung depan. Kita bisa menduga-duga apa yang terjadi di panggung belakang. Bisa jadi mereka tersenyum manis dan berbagi jatah atau proyek.
Mereka bermain drama di atas panggung. Tapi ada saja yang terjebak pada dagelan mereka. Rela berkorban demi membela kepalsuan dan dagelan norak mereka. Masih mau diperdaya dan ditipu? (*)

