MASJID MEMBEBANI JAMAAH? KOK BISA?

oleh -138 views
Sumber foto: Bimasislam.kemenag.go.id

Bismillahirrahmanirrahim..

Teriring doa beserta seluruh kasih sayang untuk teman-teman, dimana pun berada. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dari segala keburukan. Semoga Allah senantiasa golongkan kita semua ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur. Yang dengan syukur itulah menjadikan wasilah bagi bertambahnya kenikmatan-kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kita. Kenikmatan-kenikmatan yang tiada pernah terhingga. Andai pun kita berusaha menimbang dan menghitung nikmat-nikmat Allah, demi Allah, tidak akan ada satu pun alat hitung yang dapat mengkalkulasi kenikmatan-kenikmatan tersebut.

Ikhwah, malam ini ijinkan saya berbagi tentang beberapa hal.
Pertama, semoga Allah senantiasa tingkatkan Ghirah-ghirah ibadah kita. Mudah-mudahan dengan adanya wabah Covid-19 ini tak lantas menyurutkan semangat ibadah kita, tapi justru semakin menambah semangat kita dalam beribadah.

Kedua, barangkali yang paling kita rindukan sejak merambahnya wabah Covid 19 akhir-akhir ini adalah kondisi masjid yang ramai dengan jamaah. Akhir-akhir ini masjid mulai berkurang jamaahnya. Belum lagi setiap jamaah harus membawa sajadah masing-masing dari rumah. Barangkali di beberapa daerah sudah merasakan kondisi seperti ini. Subhanallah.

Ketiga, berkenaan dengan itu, ijinkan saya berbagi tentang masjid dan pengelolaan keuangan masjid.

Saya teringat betul kata-kata Al Ustadz Salim A Fillah, pengurus Masjid Jogokariyan Jogjakarta. Masjid yang menjadi salah satu masjid percontohan di Indonesia. Beliau pernah menulis di salah satu artikel yang kira-kira isinya begini:

Faktanya, negeri kita memiliki lebih dari 1 juta masjid besar maupun kecil. Pertanyaannya adalah, berapa masjid yang menjadi BEBAN bagi jamaah dibandingkan dengan masjid yang MEMBERDAYAKAN jamaah? Maka jawabannya adalah, ratusan ribu masjid membebani jamaah untuk listrik, air dan kebersihan. Padahal pemanfaatannya hanyalah untuk shalat dan shalat pun tak pernah penuh.

Ikhwah, sebagai orang yang awam bahkan saya mengaamiinkan statemen beliau ini.
Pernahkah kita berpikir bahwa mengapa sebenarnya uang yang kita infakan itu hanya digunakan untuk keperluan-keperluan masjid saja. Ya, meskipun sebenarnya juga untuk keperluan ibadah juga, dan tidak salah.

Tapi yang lebih mengherankan adalah, pernahkah kita berpikir bahwa sebanyak itu uang yang dihimpun oleh masjid tetapi hanya digunakan untuk operasional masjid saja. Sisanya kemana?

Pernahkah teman-teman datang ke suatu masjid dan melihat papan pengumuman masjid yang tertera jumlah saldo kas masjid? Kira-kira berapa rata-rata setiap masjid punya saldo kas?

Menurut pengalaman saya, setiap masjid biasanya memiliki saldo kas tak kurang dari 50 juta. Bahkan ada yang di atas 100 juta. Waaw!! Angka yang fantastis sebenarnya.

Mengapa kebanyakan masjid berlomba-lomba dan berbangga-bangga mengumpulkan saldo sebanyak-banyaknya tanpa diberdayakan?

Teman saya pernah mewawancarai salah satu ustadz, kebetulan beliau ketua DKM. Ketika ditanya langsung kepada beliau tentang penggunaan dana masjid itu untuk apa saja (Untuk informasi, saldo kas masjid tersebut di atas 90 juta), beliau menjawab dana masjid hanya digunakan untuk keperluan operasional masjid saja. Seperti biaya air, listrik, keperluan kebersihan masjid. Untuk Takmir masjid, petugas Shalat Jumat dan perbaikan-perbaikan fasilitas masjid jika diperlukan. Kemudian ketika ditanya mengapa uang sebanyak itu tidak diberdayakan untuk umat saja? Jawabannya barangkali akan mengejutkan teman-teman. Beliau menjawab, tidak berani, sebab itu dana milik umat. Tidak berani memakainya begitu saja. Subhanallah.

Setelah saya diskusikan dengan salah satu dosen saya di kampus mengenai pendapat ustadz tersebut, beliau (dosen saya) Cuma bilang bahwa itu sesat pikir 😀
Justru karena itu uang milik umat, maka harus dikembalikan kepada umat. Diberdayakan. Bagaimana cara memberdayakannya? Tentu banyak caranya, masjid-masjid lain sudah menerapkannya. Infak itu ditunggu pahalanya untuk menjadi amal salih, bukan untuk disimpan saja di rekening bank. Setuju?

Saya teringat dengan salah satu ayat dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah Ayat 35:

“(ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”

Ayat ini menjelaskan tentang larangan menimbun harta. Islam melarang kita menimbun dan menumpuk-numpuk harta. Namun bagaimana jadinya jika yang melakukan hal itu adalah masjid? Bukankah semua hal akan dimintai pertanggung jawaban? Naudzubillahimindzalik..

Saya teringat betul kata-kata Ustadz Salim A Fillah: “Ketika kami berusaha meng-0 rupiahkan saldo kas Masjid Jogokariyan setiap harinya, mengapa justru ada banyak masjid yang berbangga-bangga mengumumkan dan berlomba-lomba memperbanyak saldo masjid?

Bayangkan saja, Ikhwah, Masjid Jogokariyan selalu 0 rupiah saldonya. Apakah itu karena infak dari jamaah sedikit? Tentu tidak. Bahkan mungkin masjid tersebut menjadi salah satu masjid yang jumlah uang infak hariannya paling banyak. Tapi karena pengurus masjidnya paham dan mengerti, maka uang ini digunakan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat.

Maka, bayangkan saja, Ihkwah, pengumuman saldo kas masjid yang puluhan juta rupiah tersebut justru akan menyakitkan bagi tetangga di sekitar masjid yang mungkin untuk biaya makan sehari-hari saja mereka kesulitan. Atau mereka yang kesulitan untuk biaya pendidikan anak-anak mereka. Barangkali, kita termasuk ke dalam salah satu jamaah yang lantang menyalahkan mereka yang tidak pernah shalat berjamaah di masjid. Tidak pernah bermajelis di masjid. Tanpa kita mengetahui permasalahan mereka, barangkali mereka tidak pernah shalat berjamaah di masjid karena mereka sibuk bekerja, kelelahan atau barangkali kita yang kurang peka dan tidak pernah bersilaturahim kepada mereka. Maka, bukankah ini menjadi sebuah tragedi yang menyayat hati, Ikhwah?

Maka, barangkali ini adalah tugas kita bersama untuk mendakwahkan hal ini kepada masjid yang belum menerapkan ini. Syukur-syukur jika teman-teman menjadi takmir masjid, mulailah dari hal paling sederhana untuk memberdayakan keuangan masjid. Minimal memberdayakan jamaah yang rutin shalat di masjid.

Andai saja, setiap masjid di Indonesia memiliki pengelolaan sebaik masjid Jogokariyan, saya yakin tidak akan ada lagi orang miskin di Indonesia ini. Dan kita bisa mandiri mengelola keuangan umat sendiri. Insya Allah.

Wallahu A’lam Bissawab..

Jambi, Rabu 8 Sya’ban 1441 H
(Disampaikan dalam Kuliah WhatsApp ODOJ MJR-SJS Rabu 1 April 2020)
Agung Gunawan
Penulis Buku Menuju Senja

Editor: Renilda Pratiwi Yolandini