Jakarta, Oerban.com – Istri mantan Perdana Menteri Nepal dilaporkan tewas setelah rumahnya dibakar oleh massa demonstran. Tragedi tersebut menarik perhatian penulis Tere Liye yang menyampaikan pandangan melalui media sosial, pada Rabu (10/9/2025).
Dalam unggahannya di Instagram, Tere Liye menuliskan bahwa meskipun peristiwa itu terjadi jauh di pegunungan Himalaya, tetap ada banyak hikmah yang bisa direnungkan.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mengingat kembali peristiwa 14 Juli 1789, yang menandai pecahnya Revolusi Prancis.
Unggahan tersebut menuai beragam respons dari warganet. Akun @agung.adikusuma menulis, “Politicians harus takut sama warganya sendiri, mereka harus tahu dan takut dengan tuanya.”
Komentar lain datang dari @rifkistw13 yang menuliskan, “Wkwkwk Indonesia seharusnya begini nih, ratain semua yang ada di Istana Negara sama Senayan (gedung DPR), reset ulang.”
Sementara itu, @nitametom menilai peristiwa di Nepal mirip dengan Revolusi Prancis. “Revolusi Perancis kan? Tapi emang sih, rakyat kalau udah bersatu dan ngamuk bisa sefatal ini akibatnya. Pejabat-pejabatnya aja sampai dieksekusi satu per satu. Ngerii ih,” tulisnya.
Ada juga komentar singkat dari akun @piyak_11 yang menyebut, “Jadi kek Revolusi Prancis.”
Hingga kini, pihak berwenang Nepal masih melakukan penyelidikan terkait aksi pembakaran rumah mantan perdana menteri tersebut serta korban jiwa yang ditimbulkannya.

