email : oerban.com@gmail.com

24.4 C
Jambi City
Thursday, April 16, 2026
- Advertisement -

Anak Muda Dilahap Inflasi

Populer

Oleh : Ihwang Syaputra 

Oerban.com – Inflasi kerap disebut sebagai “pencuri diam-diam”. Ia tidak terdengar bising, tapi perlahan menggerogoti daya beli masyarakat. Bagi generasi muda Indonesia, inflasi terasa nyata dalam bentuk harga beras yang melonjak, ongkos transportasi yang semakin mahal, hingga biaya kos yang kian mencekik.

Di atas kertas, inflasi Indonesia masih dalam kendali. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 2,31% pada Agustus 2025 — masih dalam target Bank Indonesia, yakni 1,5%–3,5%. Namun, kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu. Pada Maret 2025, inflasi bulanan bahkan sempat mencapai 1,03%, didorong lonjakan harga pangan dan transportasi. Angka yang di mata ekonom mungkin “wajar”, tapi bagi anak muda dengan gaji pas-pasan, itu berarti uang belanja bulanan habis lebih cepat dari biasanya.

Inflasi yang Menggerus Harapan

Inflasi berarti harga naik, daya beli turun. Dan daya beli yang turun artinya kebutuhan dasar semakin sulit terpenuhi. Generasi muda yang baru lulus kuliah, baru bekerja, atau baru menikah, merasakan dampaknya secara langsung.

Harga beras dan sembako yang naik membuat pengeluaran harian membengkak. Sewa kos melonjak, ongkos transportasi bertambah, sementara gaji yang diterima tetap saja tipis. Banyak anak muda akhirnya harus mengatur hidup dengan gaya “hemat keterpaksaan” bukan demi investasi masa depan, tapi sekadar bertahan hari ini.

Sulit Mencapai Kemandirian

Akibat inflasi yang tak kunjung reda, mimpi kemandirian finansial semakin jauh. Membeli rumah jadi angan-angan belaka. Di saat harga properti naik 10–15% per tahun, penghasilan kaum muda nyaris tak bergerak.

Biaya kontrakan pun melesat, memaksa sebagian besar gaji habis hanya untuk tempat tinggal. Tak sedikit yang akhirnya terjerat pinjaman online untuk menutup kebutuhan. Namun, solusi instan ini sering berubah menjadi jeratan utang yang menyakitkan.

Baca juga  Personal Branding: Kunci Anak Muda Menjadi Agen Perubahan di Era Digital

Beban ekonomi kian berat karena tingkat pengangguran terbuka masih didominasi oleh usia muda. Ketika lapangan kerja belum seimbang dengan jumlah pencari kerja, ditambah inflasi yang menekan, anak muda seperti terhimpit dari dua sisi: minim peluang, tinggi beban.

Pertumbuhan Ekonomi yang Tak Membumi

Pemerintah kerap menepuk dada dengan capaian pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Namun, siapa yang benar-benar menikmatinya? Pertumbuhan itu kerap berakar dari investasi besar dan pembangunan infrastruktur, bukan dari kestabilan harga pangan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pertumbuhan makro ini sering kali hanya tampak di laporan resmi. Sementara di kantong anak muda, pertumbuhan tidak terasa. Mereka justru merasakan sebaliknya: harga naik, kebutuhan menekan, gaji tak cukup.

Inflasi pangan, energi, dan transportasi adalah bukti bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan hanya akan menciptakan jurang. Anak muda menjadi salah satu korban yang paling rentan, karena mereka baru merintis hidup dan belum punya cadangan kekuatan finansial.

Inflasi dan Krisis Mental

Inflasi bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal psikologis. Ketika biaya hidup makin berat, anak muda rentan merasa pesimis. Fenomena quarter life crisis tak hanya dipicu oleh pencarian jati diri, tetapi juga oleh ketidakpastian ekonomi.

Bayangkan anak muda yang baru masuk dunia kerja dengan gaji pas-pasan. Setiap bulan harus bergulat dengan biaya makan, transportasi, kos, cicilan, bahkan utang pinjol. Akibatnya, mereka kehilangan ruang untuk bermimpi. Harapan masa depan terkikis, digantikan rasa khawatir yang konstan.

Tak heran bila banyak anak muda melirik jalan keluar dengan bekerja atau belajar di luar negeri. Migrasi dianggap lebih realistis ketimbang bertahan di negeri sendiri. Fenomena ini menandakan betapa seriusnya inflasi sebagai ancaman, bukan hanya keuangan, tetapi juga optimisme generasi penerus.

Baca juga  Indonesia Percepat Negosiasi Tarif dengan AS, Pembahasan Substansi Dimulai Dua Pekan Lagi

Inflasi Harus Jadi Prioritas

Inflasi yang terkendali di angka nasional bukan berarti beban masyarakat ringan. Pemerintah perlu memandang inflasi sebagai isu yang sangat dekat dengan kesejahteraan rakyat, terutama generasi muda.

Kebijakan pengendalian harga pangan harus menjadi prioritas. Subsidi harus tepat sasaran, bukan sekadar menguntungkan pedagang besar. Lapangan kerja yang layak harus dibuka lebih luas, sehingga anak muda punya kesempatan untuk bertahan tanpa harus berutang.

Bank Indonesia boleh bangga menjaga inflasi dalam target, tetapi tugas pemerintah adalah memastikan angka itu sejalan dengan realitas masyarakat. Sebab, di balik “angka resmi” yang tampak baik, bisa jadi ada generasi muda yang diam-diam dilahap inflasi.

Inflasi bukan sekadar data statistik. Ia adalah beban nyata yang dirasakan anak muda dalam setiap belanja harian, ongkos transportasi, dan biaya tempat tinggal. Inflasi yang merayap pelan mampu menggerus mimpi dan menelan optimisme generasi penerus bangsa.

Pertumbuhan ekonomi mungkin penting, tetapi percuma jika anak muda terus terlunta. Pertanyaannya sederhana: untuk apa pertumbuhan ekonomi, jika inflasi tetap melahap masa depan anak muda?

*Penulis merupakan alumni Fakultas Dakwah UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi
- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru