email : [email protected]

23.4 C
Jambi City
Selasa, Juli 16, 2024
- Advertisement -

Krisis Kesehatan Reproduksi Remaja di Jambi: Ancaman Stunting!

Populer

Oleh: Caesara Putri Sasikirana, Shakira Zahra Amanta, Tarra Octaviana, Sri Rezeki, Aufa Salsabila, Sonia Arni Syafutri, Agnes Alya Kezia.

Kota Jambi, Oerban.com – Dalam menyelami kompleksitas kesehatan reproduksi remaja putri di Provinsi Jambi, artikel ini akan mengupas tuntas permasalahan yang tengah mengancam, terutama dalam konteks stunting. Seperti apakah itu? Mari kita telaah bersama ancaman tersebut serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil untuk meningkatkan kesehatan generasi muda di daerah ini.

Indonesia, termasuk Provinsi Jambi, menghadapi tantangan serius terkait kesehatan reproduksi remaja putri. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada masa remaja, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang seperti stunting, sebuah masalah gizi kronis yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Remaja Putri

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan dalam Statistik Indonesia 2023 pada Februari lalu, diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 275,7 juta jiwa. Jumlah ini terdiri dari 139,3 juta orang laki-laki dan 136,3 juta orang perempuan. Menurut WHO, masa remaja adalah fase kehidupan antara masa kanak-kanak dan dewasa, dari usia 10 hingga 19 tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi menunjukkan jumlah remaja putri dengan rentang usia 10-19 tahun adalah sebanyak 316.300 orang.

Konteks Masalah

Remaja putri di Indonesia, termasuk di Provinsi Jambi, rentan menghadapi masalah kesehatan reproduksi seperti kehamilan remaja, penyebaran penyakit menular seksual, dan kurangnya pemahaman tentang pentingnya perawatan kesehatan reproduksi.

  • Kehamilan Remaja

Terjadinya perubahan fisik dan seksual yang signifikan, menimbulkan ketertarikan seksual terhadap lawan jenis yang cukup besar dan dorongan seksual juga berkembang. Hal ini bisa berdampak pada perilaku kesehatan remaja, salah satunya terhadap perilaku menyimpang yang dapat menyebabkan terjadinya kehamilan remaja.

Kehamilan remaja dapat menimbulkan efek pada kesehatan reproduksi dan seksual perempuan. Kehamilan remaja mempunyai konsekuensi kesehatan yang besar untuk ibu remaja serta bayinya. Secara fisik, banyak remaja perempuan usia 15–19 tahun di seluruh dunia yang belum siap akan kehamilan atau persalinan, sehingga lebih rentan terhadap komplikasi yang merupakan penyebab kematian. Salah satu konsekuensi sosial bagi remaja hamil terutama yang belum menikah dapat mencakup stigma, penolakan atau kekerasan oleh pasangan, orang tua, tetangga dan teman sebaya, serta terjadinya putus sekolah (WHO, 2020).

Kehamilan remaja merupakan hasil dari banyak faktor individu, sosial, tingkat hukum dan sistem kesehatan. Kehamilan dini bisa terjadi karena kombinasi antara norma sosial, tradisi, dan kendala ekonomi. Anak perempuan di berbagai tempat memilih untuk hamil karena memiliki kesempatan dalam pendidikan dan pekerjaan yang terbatas, serta mereka mendapat tekanan untuk menikah dan melahirkan anak sejak dini. Sering kali dalam masyarakat seperti itu, pernikahan, melahirkan anak dan menjadi seorang ibu lebih dihargai serta mungkin yang terbaik dari pilihan yang tersedia dan terbatas (WHO, 2020). Selain itu, remaja yang hamil cenderung berasal dari rumah tangga berpenghasilan rendah, dan banyak yang mengalami kekurangan gizi, sehingga meningkatkan risiko yang terkait dengan kehamilan dan persalinan (UNFPA, 2017).

  • Penyakit Menular Seksual
Baca juga  Jika Dilegalkan, Anggota Komisi IX DPR Minta Penggunaan Ganja Medis Harus Diawasi Ketat

Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan bagian dari Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) yang ditularkan melalui hubungan seksual, baik melalui vagina, mulut, maupun anus. Penyakit menular seksual dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, virus, dan parasit. Penyakit menular seksual ini meliputi sifilis, herpes, gonore, HIV, dan lain-lain. 

Orang yang berisiko menderita PMS ini adalah orang yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Sedangkan yang berisiko paling tinggi menderita penyakit menular seksual ini meliputi orang yang melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan (multipartner), melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang multipartner, dan melakukan hubungan seksual tanpa pengaman.

Penyakit menular seksual ini dapat menyebabkan efek jangka panjang yang berbahaya seperti kemandulan dan kematian. Remaja putri memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena penyakit menular seksual dibandingkan laki-laki. Remaja belum cukup memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang kesehatan reproduksi. Maka dari itu, penting sekali bagi remaja untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan bahaya PMS.

  • Pengetahuan Pentingnya Perawatan Kesehatan Reproduksi

Pemahaman mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja tidak hanya terkait dengan menjaga kesehatan organ reproduksi, melainkan juga dalam mencegah perilaku tidak diinginkan. Pengetahuan yang akurat dapat membantu remaja membuat keputusan bertanggung jawab terkait perilaku mereka. Mengetahui proses reproduksi dan cara menjaga kesehatan memberikan dasar untuk memahami konsekuensi tindakan mereka, mendorong pertimbangan matang sebelum terlibat dalam aktivitas berpotensi negatif.

Penting bagi remaja, baik perempuan maupun laki-laki, memiliki pengetahuan tentang reproduksi dan gaya hidup sehat. Pergaulan yang tidak sehat dapat merugikan keduanya, sehingga pengetahuan dasar tentang topik ini menjadi keharusan. Beberapa hal dasar yang perlu diketahui remaja melibatkan proses reproduksi, pentingnya perlindungan saat berhubungan seksual, dampak perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab, dan cara menjaga kesehatan reproduksi secara umum.

Pemahaman dasar termasuk dalam hal berikut ini:

  1. Pengenalan terhadap proses, fungsi, dan sistem organ reproduksi.
  2. Mengetahui tentang penyakit HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya, serta memahami dampaknya terhadap kesehatan organ reproduksi.
  3. Pemahaman dan upaya untuk menghindari kekerasan seksual.
  4. Kesadaran akan pengaruh media dan lingkungan sosial terhadap perilaku seksual.
  5. Pengembangan kemampuan komunikasi, terutama dalam membangun kepercayaan diri dengan tujuan mencegah perilaku berisiko.
Baca juga  Miliki Tubuh yang Sehat dan Tidak Mudah Sakit, Begini Tips dan Solusinya

Dengan pemahaman ini, remaja diharapkan dapat mengelola kesehatan reproduksinya secara lebih bijaksana dan membangun sikap yang bertanggung jawab terkait dengan aspek-aspek tersebut.

Stunting sebagai Ancaman Serius

Menurut WHO stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai. Stunting merupakan kondisi di mana pertumbuhan anak terganggu, ditandai dengan tubuh pendek yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis. Balita stunting pada umumnya rentan terhadap penyakit, mempunyai kecerdasan yang di bawah normal serta produktivitasnya rendah. Yang dimaksud kekurangan gizi kronis di sini, yakni kondisi kekurangan gizi yang berlangsung lama, dari janin yang masih ada di dalam rahim sampai bayi usia 24 bulan. Kondisi ini menyebabkan tumbuh kembang anak tidak berlangsung secara optimal. 

Stunting merupakan permasalahan gizi yang mengancam kualitas hidup generasi penerus bangsa. Kompleksitas masalah stunting yang merupakan mata rantai dimulai dari pendidikan awal orang tua akan pentingnya pola konsumsi. Pola konsumsi penting sejak remaja agar mencegah kelahiran bayi dengan masalah gizi yang menjadi penyebab tumbuhnya balita dengan stunting.

Stunting, terutama pada anak-anak yang lahir dari ibu remaja, menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memprihatinkan. Keterbatasan gizi selama kehamilan dapat memengaruhi pertumbuhan janin dan berdampak pada kondisi kesehatan anak setelah lahir.

Angka Prevalensi Stunting di Indonesia dan di Provinsi Jambi

Berdasarkan data dari Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan di mana pada tahun 2021 prevalensi stunting di Indonesia sebesar 24,4% menjadi 21,6% di tahun 2022. Pada Provinsi Jambi sendiri mengalami penurunan yang semula pada tahun 2021 sebesar 22,4% menjadi 18,0% pada tahun 2022.

Kabupaten dengan prevalensi kejadian stunting tertinggi di Provinsi Jambi terdapat pada Kabupaten Batanghari dengan angka sebesar 26,3% diikuti dengan Kabupaten Sungai Penuh dengan prevalensi sebesar 26%. Kemudian, untuk Kabupaten dengan prevalensi terendah ada pada Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan prevalensi sebesar 9.9% diikuti dengan Kota Jambi sebesar 14%.

Tak hanya itu berdasarkan data SSGI dapat dilihat pula kejadian stunting yang terjadi di Provinsi Jambi banyak terjadi pada kelompok umur 24-35 bulan dengan angka kejadian 27,01% pada tahun 2021 dan 22,13% pada tahun 2022. Angka ini mengalami penurunan yang cukup signifikan akan tetapi belum bisa dikatakan memenuhi target karena standar WHO terkait prevalensi stunting harus kurang dari 20%. 

Kaitan dengan Kesehatan Reproduksi Remaja

Apa kaitan antara kesehatan reproduksi dan stunting?. Kesehatan reproduksi remaja berperan kunci dalam mencegah stunting. Edukasi yang tepat tentang perawatan kesehatan reproduksi, akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, dan dukungan sosial dapat membantu remaja putri mengelola kesehatan reproduksinya dengan baik.

Baca juga  Cahaya Artifisial, Penyebab Kegagalan Reproduksimu
Langkah-langkah Pencegahan Stunting
  • Pendidikan Seksual Komprehensif

 Memasukkan pendidikan seksual yang komprehensif dalam kurikulum sekolah dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada remaja putri tentang pentingnya kesehatan reproduksi.

  • Akses Terhadap Layanan Kesehatan

Meningkatkan akses remaja putri ke layanan kesehatan reproduksi yang ramah remaja, mencakup pelayanan konseling dan pemantauan kehamilan.

  • Dukungan Masyarakat

Melibatkan masyarakat dalam mendukung remaja putri dengan memberikan pemahaman dan dukungan positif terhadap keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi mereka.

Pemangku Kepentingan

Dari permasalahan-permasalahan di atas maka harus melibatkan pemerintah daerah, lembaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat lokal dalam upaya bersama untuk meningkatkan kesehatan reproduksi remaja dan mencegah stunting.

Kesimpulan

Langkah-langkah pencegahan stunting perlu diintegrasikan dalam upaya peningkatan kesehatan reproduksi remaja putri di Provinsi Jambi. Dengan pendekatan holistik dan kolaboratif, masyarakat dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan generasi muda dengan baik.

Referensi:

  1. Ministry of Health Republic of Indonesia. (2017). National Health Profile 2016. Jakarta: Ministry of Health Republic of Indonesia.
  2. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2020). Penelitian Nasional Terkait Anak Tahun 2018: Kajian Kesejahteraan Anak. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
  3. World Health Organization. (2011). WHO guidelines on preventing early pregnancy and poor reproductive outcomes among adolescents in developing countries. Geneva: World Health Organization.
  4. World Health Organization. (2022). Adolescent Health. Geneva: World Health Organization.
  5. Badan Pusat Statistik. Proyeksi Penduduk Menurut Kelompok Umur, 2010-2035 (Ribu Jiwa), 2021-2023. Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi (Statistics of Jambi Province).
  6. Matahari R, Utami FP. 2018. Kesehatan Reproduksi Remaja Dan Infeksi Menular Seksual. Yogyakarta: Pustaka Ilmu.
  7. Syukur, B., dkk.(2023) Edukasi manajemen Pencegahan Dini Penyakit Menular Seksual (PMS) Pada Remaja Di SMK Teknologi Muhammadiyah Limboto. Jurnal Kreativitas Pengabdian kepada Masyarakat, 6, 319 – 326.
  8. American Academy of Pediatrics. Diakses pada 2023. The Importance of Access to Comprehensive Sex Education. WHO. Diakses pada 2023. Adolescent Sexual Reproductive Health.
  9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018. Pentingnya Menjaga Kebersihan Alat Reproduksi. 
  10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). 
  11. Puslitbang Kemenkes RI. (2015). Perilaku Berisiko Kesehatan pada Pelajar SMP dan SMA di Indonesia. Badan Litbangkes Kementrian Kesehatan RI, 1–116. http://www.who.int/ncds/surveillance/gshs/GSHS_2015_Indonesia_Report_Bahasa.pdf?ua=1 
  12. UNFPA. (2017). Adolescent Pregnancy. United Nations Population Fund. https://www.unfpa.org/adolescentpregnancy 
  13. WHO. (2020). Adolescent Pregnancy. World Health Organization. https://www.who.int/en/newsroom/fact-sheets/detail/adolescentpregnancy
- Advertisement -

Artikel Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru