Oleh: Syamsudin Kadir*
Oerban.com – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) kini berusia 27 tahun lebih. Organisasi mahasiswa berbasis mahasiswa muslim di berbagai perguruan tinggi yang didirikan pada 29 Maret 1998 silam ini telah melahirkan ratusan ribu alumni. Para alumni tersebut menyebar di berbagai kota atau daerah dan berkarier di berbagai institusi dan lembaga, baik pemerintah maupun non pemerintah. Tak sedikit diantara mereka yang menempuh pendidikan dan berkarier di luar negeri.
Pada 15 November 2015 sebagian alumni berkumpul di Bandung, Jawa Barat. Pada forum tersebut mereka menyepakati untuk melakukan Deklarasi Wadah Alumni KAMMI yaitu Keluarga Alumni KAMMI yang disingkat KA KAMMI. Dalam perjalanan selanjutnya, muncul dua kubu KA KAMMI. Hal ini ditandai oleh berlangsungnya Kongres dalam waktu yang berdekatan. Saya termasuk yang tidak memahami apa yang terjadi pada organisasi alumni KAMMI.
Dalam ketidakpahaman itu, saya mencoba untuk terus menelisik apapun yang dapat saya jangkau. Dua kubu KA KAMMI itu benar adanya, sebuah fakta yang tak bisa dihindari atau dielakkan. Wujudnya ditandai dengan Kongres I KA KAMMI yang diadakan di Jakarta pada 12 – 12 November 2016 yang menetapkan Fahri Hamzah sebagai Ketua KA KAMMI periode 2016-2021. Lalu berlangsungnya Kongres I KA KAMMI di Bandung pada 26-27 November 2016 yang menetapkan 9 Presidium KA KAMMI dan 9 Wakil Ketua Umum KA KAMMI periode 2016-2021.
Berikutnya, Kongres II di Jakarta pada 29 Agustus 2021 menetapkan Fahri Hamzah sebagai Ketua Dewan Pembina dan Andi Rahmat sebagai Sekretaris Dewan Pembina periode 2021-2025 serta menetapkan Rahman Toha sebagai Ketua KA KAMMI periode 2021-2025. Lalu, tak lama kemudian, berlangsung Kongres II KA KAMMI di Bandung pada 26 November 2022 yang menetapkan Haryo Setyoko sebagai Ketua Dewan Pengawas periode 2022-2027 dan Surya Jaya Purnama (SJP) sebagai Ketua KA KAMMI periode 2022-2027.
Saya berpandangan, dua kubu KA KAMMI yang ada sekarang ini sama-sama memiliki semangat yang sama untuk membesarkan organisasi alumni KAMMI. Terbukti dengan kehadiran para alumni lintas generasi pada acara Halal Bihalal Pengurus dan Alumni KAMMI di Jakarta pada 17 April 2025 lalu. Acara semacam itu terlihat sepele, tapi berdampak baik pada upaya menjaga silaturahim dengan pengurus KAMMI dan antar sesama alumni KAMMI. Dan saya termasuk yang menilai acara tersebut sukses.
Saya berpengalaman di kaderisasi KAMMI dari tingkat komisariat, daerah dan wilayah hingga pusat. Sehingga saya masih berkomunikasi dengan alumni KAMMI yang tidak atau belum berafiliasi dengan kubu mana pun. Saat berkomunikasi, beberapa pertanyaan sering muncul, misalnya, (1) apakah perlu membuat gerbong ketiga sehingga alumni KAMMI bisa terwadahi dengan baik? (2) apakah keberadaan KA KAMMI bermanfaat bagi seluruh alumni KAMMI, atau sekadar kepentingan sebagian alumni KAMMI? (3) apakah dua kubu ini suatu saat bisa bersatu dalam satu wadah alumni KAMMI?
Untuk pertanyaan pertama, saya berpendapat, sepertinya tak perlu membentuk lagi organisasi KA KAMMI. Lebih baik mengikuti salah satu dari organisasi yang sudah ada. Hal ini tentu sesuai selera dan kenyamanan hati masing-masing alumni. Silahkan bergabung dan berkontribusi di organisasi alumni yang dirasa mengakomodir ide dan gagasannya. Perihal pertanyaan kedua, yaitu manfaat organisasi alumni, tentu saja bermanfaat. Selain sebagai wadah silaturahim juga sebagai wadah konsolidasi alumni KAMMI yang beragam latar belakang dan profesi atau karier.
Menjawab pertanyaan ketiga, saya termasuk yang optimis suatu saat organisasi alumni KA KAMMI bakal bersatu dalam satu wadah. Kuncinya ada tiga, (1) dua kubu berlapang dada, punya tekad dan berupaya agar ikhtiar untuk bersatu benar-benar terwujud. (2) adanya tokoh pemersatu dan perekat alumni KAMMI yang berasal dari dua kubu. Sosok semacam ini mesti bekerja keras untuk menyatukan organisasi KA KAMMI. (3) adanya tokoh selain dua kubu yang menginisiasi bersatunya organisasi alumni KAMMI. Intinya, alumni KAMMI harus sering bertemu dan mencari titik temu.
Alla kuli hal, saya sebetulnya tak begitu paham perihal dinamika organisasi alumni KAMMI seperti KA KAMMI yang saat ini masih menjadi dua kubu. Bagi saya, itu urusan para suhu yang ada di dua kubu KA KAMMI. Berdasarkan daya jangkau yang terbatas, insyaa Allah saya hanya konsen untuk “mencatat” dinamika KAMMI dan dinamika KA KAMMI. Organisasi KAMMI memiliki alumni yang cukup besar, puluhan bahkan ratusan ribu jumlahnya. Perjalanan sejarah KAMMI dan alumninya perlu ditulis dengan baik, sejak berdiri hingga saat ini. Siapa yang berminat? (*)
*Penulis Buku “Optimisme KAMMI Merawat Indonesia”.

