email : oerban.com@gmail.com

22.7 C
Jambi City
Jumat, Desember 2, 2022
- Advertisement -

Orang Terdekat Berprofesi Sebagai Psikolog, Bolehkah Konsultasi?

Populer

Oleh : Ghina Syauqila

Sarjana Psikologi UNJA

Sahabat, di masa sekarang, kebutuhan akan layanan psikologi sangat meningkat, seiring dengan bertambahnya kasus gangguan mental atau mental illness. Kawula muda zaman kini pun memiliki minat yang besar terhadap studi psikologi yang menjadikan kuota pendaftar pada program studi psikologi tiap universitas semakin melambung, dari program studi psikologi inilah nantinya akan lahir calon-calon psikolog dan ilmuwan psikologi.

Mungkin di antara orang-orang terdekat, bisa keluarga atau teman, ada yang berlatar belakang pendidikan psikologi, atau bahkan ada yang berprofesi sebagai psikolog. Pastinya, ketika  memiliki keluarga atau teman yang berprofesi sebagai psikolog, kita sering tertarik untuk berkonsultasi tentang permasalahan yang kita alami, atau mungkin berpikir orang terdekat tersebut dapat memberikan layanan psikologi yang bermacam-macam, seperti asesmen psikologi, konseling psikologi, atau terapi psikologi (psikoterapi). Tapi sebenarnya, bolehkah mereka sebagai psikolog memberikan layanan psikologi pada kita yang merupakan orang terdekat mereka?

Secara kode etik psikologi, sebenarnya seorang psikolog tidak diperbolehkan untuk memberi layanan psikologi kepada keluarga atau teman, yang secara notabene memiliki hubungan secara emosional dengannya. Mengapa demikian? Seorang psikolog haruslah bersikap objektif dalam memberikan layanan psikologi, supaya tidak terjadi bias. Adapun bias yang dimaksud menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kecenderungan seseorang untuk mendukung atau menentang suatu hal, orang, atau kelompok dengan cara yang kurang adil, sehingga mengakibatkan seseorang tersebut tidak netral dalam memandang sesuatu.

Baca juga  Expressive Writing Therapy, Seni Mengkaji Emosi Diri Melalui Tulisan

Jika seseorang memiliki sahabat, tentu ia akan berpikir bahwa sahabatnya itu sangat baik padanya. Suatu ketika, seseorang tersebut mendengar bahwa sahabatnya telah melakukan sesuatu yang buruk, ia tak akan percaya, walau pada kenyataannya sahabatnya tersebut memang melakukan sesuatu yang buruk itu. Orang tersebut akan tetap membela sahabatnya karena ia menyayangi sahabatnya. Tentu ia tak mau sahabatnya terkena masalah.

Baca juga  Attachment Style, Output dari Pola Asuh yang Berefek Hingga Dewasa

Ilustrasi yang demikian dapat pula menggambarkan bagaimana hubungan seorang psikolog dengan pengguna layanan psikologinya (yang disebut klien) apabila kliennya tersebut adalah orang terdekatnya. Emosi kuat yang mengikat sang psikolog dengan orang terdekat yang menjadi kliennya tersebut membuat sang psikolog cenderung sulit menilai dan mendiagnosis kondisi klien dengan objektif, sehingga nantinya layanan psikologi yang diberikan tidak efektif.

Objektifitas dalam menilai, menganalisis, dan mendiagnosis menggambarkan bagaimana profesionalitas psikolog. Karena itu, seharusnya pemberian layanan psikologi dari psikolog kepada orang terdekat seharusnya dihindari, karena melanggar kode etik psikologi.

Bagaimana dengan curhat biasa seperti layaknya teman dengan teman? Jika hanya curhat biasa, tidak apa-apa, asal tidak melampaui batasan-batasan kode etik psikologi yang telah ditetapkan—salah satunya seperti yang telah diterangkan di atas, yang melibatkan ranah-ranah profesionalitas psikolog. Justru, teman yang berasal dari keilmuan psikologi akan jauh lebih peka, terbuka, dan memahami perasaan kita, loh!

Editor : Renilda Pratiwi Yolandini

 

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru