SAHRUL : MAHASISWA SEMESTER 4 UNJA SUDAH MAMPU MERAIH OMSET 150 JUTA TERKAIT BISNIS YANG DIGELUTINYA BERSAMA ORANGTUA

oleh
(Wawancara bersama Sahrul Mahasiswa UNJA yang punya omset 150 juta. Photo/Renilda Yolandini)

”Jangan pernah takut jatuh untuk berdiri, karena hasil tidak akan pernah menghianati usaha”

Jambi, Oerban.com – Sahrul merupakan mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jambi (UNJA) Semester 4 kini sedang asyik menjalankan bisnis pupuk yang sudah digelutinya bersama orang tuanya sejak tahun 2015. Awalnya, bisnis ini dikelola oleh orang tuanya sendiri, namun karena ketertarikannya akan usaha tersebut, kini ia ikut untuk terjun kedalam dunia usaha pupuk organik itu. Usaha yang digelutinya adalah TRICHOMPOS. Yaitu pupuk organik yang ramah lingkungan. Pupuk tersebut tidak mengandung zat kimia dan tidak merusak kegemburan tanah. Tricho merupakan nama bakteri yang terkandung didalam pupuk. Pupuk ini telah lulus uji Lab di Bogor pada tahun 2015. Hasilnya cukup bagus, pupuk ini mengandung unsur hara yang tinggi. Pupuk tersebut ia jual dengan harga per karung (5kg) Rp.10.000 rupiah. harga yang sangat terjangkau, tapi sangat menjanjikan. Tak disangka, ia kini sudah mampu meraih uang ratusan juta dari hasil penjualan pupuk tersebut. “kalau ditotal dari tahun 2015 sampai sekarang. Itu pendapatannya sudah mencapai lebih dari 150 juta rupiah”. Ungkapnya.

Pupuk tersebut di proses secara sederhana dengan menggunakan bahan utama feses sapi dan ayam, lalu ditambah dengan sekam padi, abu, dan serbuk kayu yang diolah didalam mesin penggiling (chopper). Dalam satu kali produksi. Pupuk yang dihasilkan sebanyak 1 ton. Dan tentu itu tidak diproduksi setiap hari. Karena produksi hanya dilakukan ketika ada pesanan atau ketika stok pupuk sudah habis. Pupuk organic tersebut dipasarkan ke toko-toko pertanian yang ada di daerah Pal Merah dan sekitarnya. Pupuk tersebut juga ia jual dirumah apabila ada yang ingin membelinya secara langsung.

Berbicara tentang akademik, Sahrul bukanlah Mahasiswa yang begitu aktif di kelas. Bahkan IP nya saja tidak mencapai angka 3 (tiga). Karena ia memang tidak begitu mengejar nilai, tapi ia lebih mengutamakan pengalaman. “nilai itu hanyalah sebuah angka, yang terpenting itu skill dan pengalaman.” Ungkapnya saat diwawancarai tim Oerban.com siang tadi. Ia juga berpesan untuk teman-temannya agar jangan terlalu monoton terhadap materi (di kelas), tapi lebih ke praktek. Karena materi tanpa praktek itu nihil hasilnya. Dengan adanya usaha ini, ia berharap kelak ketika wisuda tidak perlu repot mencari pekerjaan dan juga dapat memperkerjakan orang lain dengan bisnis pupuk ini. “saya berharap ketika sudah wisuda itu gak usah sibuk cari kerja lagi dan saya bisa memperkerjakan orang lain”.