email : oerban.com@gmail.com

23.9 C
Jambi City
Tuesday, April 21, 2026
- Advertisement -

Semangat Kurban: Antara Ketaatan dan Ujian Kehidupan

Populer

Oleh: Muhammad Agus Saputra, S.Pd*

Oerban.com – Bulan Dzulhijjah kembali hadir, membawa angin spiritual yang sejuk bagi umat Islam. Ini adalah momentum yang sarat makna, terutama dengan ibadah kurban sebagai simbol pengorbanan, ketundukan, dan kecintaan kepada Allah. Ibadah yang tidak hanya berupa ritual menyembelih hewan, tetapi juga penyembelihan ego, keinginan, dan segala bentuk keengganan untuk taat.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah daripada menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku dan bulunya. Dan sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka ikhlaskanlah dalam menyembelihnya.” (HR. Tirmidzi no. 1493)

Hadis ini menegaskan bahwa ibadah kurban memiliki posisi istimewa di sisi Allah. Bahkan, kurban merupakan syariat yang sangat tua, diwariskan sejak zaman Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, hingga Rasulullah SAW.

Baca juga  Hijrah Bukan Pamer, Tapi Syukur dan Inspirasi

Kita diingatkan pada satu kisah monumental: perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail. Allah SWT berfirman:

“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Perintah yang bagi akal manusia adalah sesuatu yang sangat berat dan nyaris tak masuk logika. Namun, dua insan luar biasa ini menjawab perintah tersebut dengan ketaatan yang luar biasa.

Baca juga  Dari Anak Rohis hingga Dakwah Digital: Menjadi Bagian dari Perubahan Nyata

Ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini menggetarkan langit dan bumi. Malaikat berseru Allahu Aakbar, dan dari peristiwa inilah diyakini lahirnya takbir yang kita kumandangkan pada hari-hari Idul Adha: Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Kisah itu menyimpan pelajaran luar biasa yang tetap relevan hingga hari ini.

Pertama, bahwa setiap manusia pasti diuji oleh Allah. Ujian adalah keniscayaan, terutama bagi orang-orang beriman. Allah menegaskan dalam Alquran:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)

Baca juga  Nasehat Seorang Ayah yang Diabadikan Allah

Maka ketika Allah memerintahkan kita untuk berkurban, jangan langsung bertanya: “Apakah saya mampu?” Tapi bertanyalah: “Apakah saya mau taat?”

Kedua, ketaatan sejati adalah ketika perintah Allah kita sambut dengan sikap sam’ina wa atha’na—kami dengar dan kami taat. Bukan hanya mendengar, lalu menunda atau mengabaikan. Allah menyebutkan karakter orang beriman sejati:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.'”(QS. An-Nur: 51)

Bukankah banyak dari kita yang selama hidup belum pernah sekalipun berkurban, bukan karena tak mampu, tapi karena tak memprioritaskannya?

Baca juga  FPRJ Gelar Seminar “TEGAS” di SMAN 1 Sarolangun: Ajak Pelajar Katakan Tidak pada Judi Online

Ketiga, ketaatan akan selalu mendatangkan pertolongan Allah. Sebagaimana ketika Ibrahim benar-benar siap menyembelih putranya, pertolongan Allah datang:

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”(QS. Ash-Shaffat: 107)

Ini menjadi pelajaran bahwa ketika kita berserah diri dalam taat, Allah tidak akan membiarkan kita sendirian. Akan selalu ada jalan keluar, akan selalu ada karunia yang menggantikan apa yang kita relakan karena Allah.

Di era yang serba materialistik ini, semangat kurban mengajarkan kita tentang arti keikhlasan, keberanian, dan keteguhan. Bahwa berkurban bukan semata perkara mampu atau tidak mampu secara harta, tetapi tentang kesiapan hati untuk tunduk pada perintah-Nya. Jangan sampai umur kita habis tanpa pernah menunaikan satu pun kurban, sementara kita mampu membeli banyak hal duniawi lainnya.

Mari kita belajar dari Ibrahim dan Ismail, dua hamba Allah yang telah membuktikan bahwa cinta kepada Allah harus mengalahkan segala cinta yang lain. Dan semoga, di bulan yang penuh keberkahan ini, kita pun mampu menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri, mendekat kepada Allah dengan amal terbaik, serta menjadi hamba yang sabar dalam menaati perintah-Nya.

Baca juga  Momentum Maulid: Membuktikan Cinta kepada Nabi Muhammad SAW

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al-Ma’idah: 27)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

*Penulis merupakan Da’i Kota Jambi. 

- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru