Oleh: Muhammad Arjuna Pase*
Oerban.com — Kisah yang disampaikan oleh mahasiswa UIN STS Jambi berinisial M.A.P menggambarkan sebuah realita yang sayangnya masih dialami oleh banyak mahasiswa di berbagai kampus Indonesia terkhususnya kampus tempatnya berkuliah: ketimpangan antara kewajiban dan hak mahasiswa.
M.A.P datang tepat waktu, bahkan lebih awal. Tapi tetap saja terlambat masuk kelas karena lift rusak dan antrian panjang, akhirnya harus naik tangga.
Ini bukan hanya soal fisik yang lelah, tapi juga tekanan mental saat dimarahi dosen atas keterlambatan yang bukan sepenuhnya kesalahan pribadi.
Ditambah lagi, fasilitas kelas yang seharusnya mendukung proses belajar malah jauh dari layak. AC mati, ruang pengap, hingga KKN mandiri dan kuliah online setiap Jumat demi efisiensi anggaran.
Sayangnya, efisiensi ini terasa berat sebelah ketika mahasiswa harus berhemat dan berkorban, sementara petinggi kampus tetap menikmati fasilitas mewah seperti mobil dinas pribadi.
Ini menyisakan pertanyaan besar di benaknya : untuk siapa kampus ini sebenarnya? Mahasiswa telah membayar UKT yang tidak kecil, namun pelayanan dan fasilitas yang diterima tidak mencerminkan kontribusi itu.
Transparansi penggunaan anggaran kampus menjadi hal yang sangat penting untuk diperjuangkan. Sebab, pendidikan bukan hanya soal bayar-membayar, tapi juga soal keadilan, kenyamanan, dan kemanusiaan.
*Penulis merupakan Mahasiswa UIN STS Jambi

