Oleh: Habibullah*
Oerban.com — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus yang penuh dengan ambisi akademik, pencarian jati diri, dan gemerlap prestasi, dakwah sering kali terasa sebagai jalan sunyi. Tidak banyak yang mau menapakinya, apalagi dengan konsistensi.
Namun bila kita membuka lembaran sejarah Islam, kita akan menemukan satu sosok pemuda yang bisa menjadi cermin sekaligus pelecut bagi kita hari ini: Mus‘ab bin ‘Umair.
Mus‘ab bukan pemuda biasa. Ia tumbuh dalam pelukan kemewahan dan status sosial tinggi di Makkah. Ia dikenal karena ketampanan dan gaya hidupnya yang mewah.
Tapi semuanya berubah ketika Islam menyapa hatinya. Ia memilih untuk meninggalkan segalanya: kemewahan, kenyamanan, bahkan kasih sayang seorang ibu yang sangat mencintainya. Semua itu ia tinggalkan demi satu kata: kebenaran.
Mus‘ab menerima amanah besar dari Rasulullah SAW untuk menjadi duta Islam pertama di Yatsrib (Madinah). Tugasnya berat: membina masyarakat baru, menyampaikan risalah Islam, tanpa perlindungan keluarga, tanpa kekuatan politik.
Namun ia tidak mengeluh. Ia berjalan, ia menyapa, ia mendidik, hingga akhirnya Islam tumbuh subur di Madinah. Di tangannya, fondasi negara Islam pertama dibangun. Jalan hijrah Rasulullah pun terbuka karena perjuangannya.
Pertanyaannya: apa yang membuat Mus‘ab bertahan? Saya kira jawabannya adalah keteguhan iman, kejelasan tujuan, dan kesadaran akan nilai pengorbanan. Dan inilah pelajaran penting bagi kita para aktivis dakwah kampus.
Hari ini, kita tak diutus ke negeri asing. Kita tidak dikejar-kejar seperti Mus‘ab. Tapi kita berhadapan dengan tantangan yang tak kalah serius: rasa malas, cinta kenyamanan, dan kegamangan identitas.
Kita lebih sibuk memoles CV dari pada mengasah jiwa. Kita lebih takut kehilangan “kesempatan dunia” ketimbang kehilangan keberkahan dari Allah. Maka pantas bila dakwah hari ini terasa sepi, karena banyak yang ragu untuk melangkah.
Dakwah kampus butuh Mus‘ab-Mus‘ab baru bukan yang sempurna, tapi yang siap belajar dan berkorban. Bukan yang ingin tampil, tapi yang siap bekerja dalam diam.
Bukan yang menunggu ditunjuk, tapi yang siap mengambil peran. Jalan dakwah memang tidak selalu ramai, tapi justru di situlah nilainya. Mus‘ab telah menapaki jalan itu. Dan kita tahu ke mana jalan itu membawanya: kepada ridha Allah dan sejarah yang abadi.
Jika hari ini kita merasa sendiri, ingatlah: Mus‘ab juga pernah sendiri. Jika kita merasa lelah, ia jauh lebih lelah. Tapi ia tetap istiqamah. Maka marilah kita warisi semangat itu bukan hanya dalam kata, tapi dalam amal.
*Penulis merupakan Aktivis KAMMI

