Oleh: Mifta Chuljannah*
Oerban.com — KKN Mandiri adalah perjalanan sunyi yang penuh makna. Tidak ada rekan satu kelompok, tidak ada keramaian mahasiswa lain yang biasanya ramai di satu desa. Yang ada hanyalah aku, seorang mahasiswa yang kembali pulang ke desa sendiri dengan satu tekad: mengabdi dengan ilmu yang aku punya dan belajar dari masyarakat yang telah membesarkanku.
Desa Ampelu Mudo menjadi ruang belajar baru, bukan hanya tentang pengabdian, tetapi juga tentang kehidupan.
Kehidupan mahasiswa tidak hanya diwarnai oleh ruang kuliah, buku tebal, atau ujian yang menegangkan. Ada satu fase penting yang menghadirkan pengalaman baru sekaligus menguji kepedulian sosial: Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Bagi sebagian mahasiswa, KKN adalah momen untuk keluar dari zona nyaman dan bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Begitu pula yang saya alami saat memilih KKN mandiri di tanah kelahiran sendiri, Desa Ampelu Mudo. Awalnya, saya sempat merasa ragu.
Bagaimana mungkin menjalani KKN di desa sendiri bisa memberi pengalaman berbeda? Bukankah saya sudah lama tinggal di sini?
Namun, ternyata menjadi mahasiswa KKN bukan hanya sekadar “tinggal di desa” melainkan hadir sebagai pembelajar yang sekaligus mengabdi. Dari sinilah perjalanan reflektif saya dimulai.
Alasan Memilih Kegiatan Pengabdian ini:
Saya memilih untuk melaksanakan KKN Mandiri di desa sendiri, Ampelu Mudo. Ada beberapa alasan yang mendasari keputusan ini.
Pertama, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk kembali dan memberi sumbangsih, meski kecil, kepada tanah kelahiran saya.
Kedua, saya ingin menjalin kedekatan yang lebih erat dengan masyarakat desa yang selama ini selalu mendukung perjalanan hidup saya. Dan ketiga, saya ingin menguji diri: sejauh mana ilmu yang saya peroleh di bangku kuliah dapat benar-benar bermanfaat dalam kehidupan.
Pilihan ini bukan sekadar strategi praktis, melainkan juga bentuk rasa cinta pada desa. Saya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari rumah, dari lingkungan terdekat kita sendiri. Perubahan besar selalu dimulai dari rumah, dari lingkungan terdekat kita sendiri.
Enam Pekan yang Penuh Cerita
Setiap pekan selama KKN, saya mencoba memberikan yang terbaik. Pagi hari, saya berjalan menuju SDN 151/1 Ampelu Mudo. Di sana, saya menjadi pengajar tambahan bagi anak-anak.

Tidak hanya materi pelajaran formal yang saya sampaikan, tetapi juga bagaimana cara belajar yang menyenangkan, penuh tawa, dan tidak membuat bosan.
Senyum mereka setiap kali berhasil memahami pelajaran sederhana menjadi energi yang luar biasa. Selain itu, dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan, saya mengadakan lomba 17 Agustus.
Anak-anak berlari, tertawa, dan bersorak dengan riang. Lomba itu sederhana, tetapi penuh makna. Saya melihat bagaimana persaingan sehat bisa menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mempererat kebersamaan.
Tidak hanya berhenti di sekolah, saya juga meluangkan sore hari untuk kegiatan keagamaan. Saya mengajar mengaji di surau kecil desa.
Meski kadang harus sabar mendengar anakanak terbata-bata membaca huruf hijaiyah, namun setiap perkembangan kecil yang mereka capai terasa sangat membahagiakan.
Saya pun ikut terlibat dalam denyut nadi kehidupan masyarakat. Mulai dari mengikuti posyandu balita, menghadiri yasinan ibu-ibu dan remaja, hingga berpartisipasi dalam yasinan bulanan di masjid desa.
Dari kegiatan itu, saya merasakan betapa kokohnya ikatan sosial warga. Tak kalah menarik adalah kunjungan saya ke pusat home industri rengginang ubi kayu, produk lokal desa yang terkenal.
Dari kunjungan tersebut, saya mendapat inspirasi bagaimana produk desa bisa dikembangkan lebih luas. Saya juga ikut dalam kegiatan gotong royong.

Membantu bercocok tanam padi bersama kelompok tani, dan menghadiri pelatihan ketahanan pangan di Balai Desa. Semua itu membuat saya semakin menghargai keringat dan kerja sama masyarakat desa.
Kendala dan Cara Mengatasi masalah saat bermasyarakat dan saat di mengajar di SD. Tentu saja perjalanan ini tidak sepenuhnya mulus.
Adapun kendala-kendala yang saya hadapi, seperti: Mengatur waktu antara kegiatan sekolah, kegiatan masyarakat, dan penyusunan laporan tidak selalu mudah. Di sekolah contohnya, Anak-anak SD kadang sangat aktif sehingga kelas menjadi sulit dikendalikan.

Bahkan di awal, saya sempat merasa kewalahan menghadapi anak-anak di sekolah. Namun, semua kendala itu perlahan bisa saya atasi dengan kesabaran dan komunikasi. Di kelas, saya mencoba menggunakan metode belajar sambil bermain agar anak-anak lebih fokus.
Di masyarakat, saya belajar lebih banyak mendengarkan sebelum berbicara, awalnya saya sangat merasa canggung untuk menyatu dengan masyarakat yang sebagian besar lebih tua. Ternyata, dengan ketulusan hati, pintu-pintu keakraban pun terbuka.
Manfaat bagi Masyarakat
Apa yang saya lakukan memang sederhana, tetapi saya percaya ada manfaat yang ditinggalkan.
Anak-anak SD menjadi lebih semangat belajar karena mendapat variasi pembelajaran. Kegiatan lomba memberikan hiburan sekaligus motivasi.
Kelas mengaji sore menambah semangat mereka untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an. Bagi masyarakat, keberadaan saya ikut membantu meringankan beberapa kegiatan, baik di bidang pendidikan, keagamaan, maupun sosial.
Mereka merasa ada yang mendampingi, ada tambahan tenaga, sekaligus ada warna baru dalam aktivitas sehari-hari. Dari sisi pengembangan desa, ide-ide yang lahir dari kunjungan ke home industri maupun pelatihan ketahanan pangan bisa menjadi bahan refleksi bersama.
Refleksi dan Harapan ke Depan
Bagi saya pribadi, KKN Mandiri di Desa Ampelu Mudo adalah perjalanan hati. Saya belajar bahwa mengabdi tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar.
Kadang, cukup dengan hadir, mendengar, dan membantu, kita sudah memberi arti. Saya juga disadarkan bahwa masyarakat desa memiliki kekuatan besar dalam kebersamaan.
Gotong royong, yasinan, hingga kegiatan sederhana seperti posyandu adalah bukti nyata bahwa solidaritas masih hidup di tengah masyarakat kita.
Ke depan, saya berharap kegiatan KKN seperti ini bisa terus berlanjut. Tidak berhenti hanya sebagai program formal kampus, tetapi menjadi jembatan nyata antara mahasiswa dan desa.
Saya juga berharap anak-anak yang pernah saya ajar bisa terus bersemangat belajar, baik di sekolah maupun di surau.
Penutup
Enam pekan mungkin telah berakhir, tetapi pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan tidak akan pernah hilang. Tawa anak-anak, kehangatan warga desa, dan makna kebersamaan akan selalu saya bawa ke manapun saya melangkah.
Inilah pengabdian kecil saya, sederhana, namun penuh makna. Kini, hari-hari KKN itu telah usai, namun jejaknya tak pernah benar-benar hilang.
Tawa murid-murid SD yang sederhana, wajah polos mereka saat berhasil menghafal satu doa baru, atau semangat mereka mengucap mufrodat Arab dengan terbata—semua itu terpatri di hatiku.
Begitu pula dengan senyum hangat warga desa yang menyapaku di jalan, obrolan ringan yang penuh makna, serta kebersamaan dalam setiap kegiatan kecil yang ternyata menyimpan arti besar.
Aku mungkin akan meninggalkan Desa Ampelu Mudo untuk kembali menempuh perjalanan di kampus, tetapi desa ini tidak pernah meninggalkan hatiku.
Ia telah mengajarkanku tentang arti pulang, arti berbagi, dan arti hidup yang sesungguhnya. KKN Mandiri ini bukan akhir dari pengabdian, melainkan awal dari janji pada diri sendiri: ke mana pun aku melangkah, aku akan selalu membawa nama desa ini, dengan cinta dan kebanggaan yang tak akan pernah pudar.
*Penulis merupakan Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

